Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenang tragedi Hiroshima dan Nagasaki 6 - 9 Agutus 1945

70 tahun lalu, tepatnya tanggal 6 Agutus tahun 1945, sebuah bom berdaya ledak tinggi menghantam bumi dan meluluhlantakan Hiroshima, tiga hari kemudian bom yang sama menghancurkan Nagasaki. Bom yang membawa hulu ledak nuklir itu dikirimkan ke Jepang atas perintah Presiden Amerika Serikat saat itu, Harry S. Truman dan ditujukan untuk menghentikan agresi Kekaisaran Jepang yang ingin menciptakan Asia Baru, pada masa Perang Dunia II.  

Hiroshima dan Nagasaki


Bom nuklir yang dikenal dengan nama "Little Boy" itu telah membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima, sedangkan "Fat Man" membunuh lebih dari 80.000 orang di Nagasaki. Setelah itu, ribuan orang kembali tewas akibat luka-luka atau sakit yang diakibatkan oleh radiasi dari bom nuklir tersebut.

 
Setelah kehancurannya, pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada pihak Sekutu, dan secara resmi menandatangani pernyataan menyerah pada tanggal 2 September. Peristiwa tersebut kemudian menjadi akhir dari Perang Pasifik dan Perang Dunia II.  Akibat pengeboman yang menewaskan banyak warganya itu, pemerintah Jepang kemudian mengadopsi Three Non-Nuclear Principles yaitu melarang negara itu untuk memiliki senjata nuklir. 


sejarah hiroshima dan nagasaki
 

Sejarah dibalik kehancuran Hiroshima dan Nagasaki 



Pada tahun 1945, Perang Pasifik yang terjadi antara Jepang dengan Sekutu sudah memasuki tahun ke-4, dan perang tersebut pun sudah memakan korban sebanyak 1.250.000 jiwa di Amerika Serikat yang terdiri dari warga dan anggota militer, baik yang tewas maupun yang terluka.  

Bulan Desember 1944, Amerika mengalami kekalahan besar yang terjadi setiap bulannya, dan telah kehilangan sebanyak 88.000 jita akibat penyerangan Ardennes oleh Jerman. Meskipun begitu, di Pasifik sendiri pihak Sekutu berhasil kembali ke Filipina, dan kembali menguasai Burma dan Borneo. Penyerangan secara agesif ini dilakukan untuk mengurangi jumlah pasukan militer milik Jepang yang ada di Bougainville, Nugini, dan Filipina. Militer AS itu pun berhasil mendarat di Okinawa pada bulan April 1945 dan pertempuran pun terus terjadi hingga bulan Juni. Aksi pendaratan pasaukan AS  di Okinawa ini kelak menjadi pintu utama dibalik pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki. 


Sementara itu, pihak Sekutu terus bergerak menuju Jepang yang menyebabkan kondisi perekonomian Jepang mulai runtuh. Armada-armada dagang milik Jepang yang pada tahun 1941 lalu bisa menghasilkan 5,250 juta ton menurun hingga 1,560 juta pada bulan Maret 1945 dan kembali merosot menjadi 557 ribu ton pada bulan Agustus 1945. Runtuhnya perekonomian Jepang ini pun didorong oleh semakin langkanya bahan mentah pada pertengahan 1944.  Bahkan perekonomian rakyat pun mulai kacau balau, panen beras pada tahun 1944 - 1945 mencapai titik terburuk, sampai akhirnya di Februari 1945, Kaisar Hirohito mendapat kabar dari Funimaro Konoe bahwa Kekalahan Jepang tidak bisa dihindari.
 

Sebelum muncul niatan untuk mengebom Hiroshima dan Nagasaki, pihak Amerika sebenarnya telah menyiapkan sebuah operasi yang diberi nama DownFall yang tujuannya adalah menginvasi Jepang. Operasi ini akan dibagi menjadi dua yaitu Olympic dan Coronet, dimana Olympic direncakan untuk dimulai pada bulan Oktober 1945, sedangkan Coronet direncanakan akan dilakukan pada bulan Maret 1946. Namun sayang, kondisi geografis dari negeri sakura itu membuat rencana Amerika Serikat berantakan, Jepang telah mengetahui rencana tersebut dan membuat rencana pertahanan yang disebut dengan Operasi Ketsuguo.

Ketsuguo ini meliputi pertahanan luar biasa dari Kyuushu dengan sisa-sisa prajurit yang sedikit, yaitu dengan memutar balik jumlah tentara yang bisa digunakan untuk melindungi kampung halaman mereka. Total tentara yang siap mempertahankan kampung halaman mereka secara mati-matian adalah sekitar 2,3 juta jiwa, belum lagi ditambah dengan 28 juta anggota militia yang terdiri dari pria maupun wanita.
 

Rencana yang sudah dipersiapkan secara matang oleh Amerika Serikat ini pun gagal karena pada tanggal 15 Juni 1945, Komite Rencana Perang Gabungan telah membuat  perhitungan bahwa operasi Olympic ini bakal mengorbankan 130..000 - 220.000 juta denga kemungkinan yang tewas sekitar 25.000 - 46.000 jiwa. 

Sementara itu rencana untuk menyerang Jepang dari udara pun sudah disiapkan oleh Amerika Serikat sebelum Perang Pasifik yang ditandai dengan penangkapan basis-basis sekutu di daerah barat pasifik. Itu artinya tidak ada penyerangan hingga pertengahan 1944 meskipun pesawat Boeing B-29 Superfortress  yang memiliki jarak jangkauan yang panjang telah dipersiapkan untuk pertempuran.


Boeing B-29 itu sendiri merupakan sebuah evolusi yang diciptakan dari Operasi Matterhorn. Namun, terlepas dari perencanaan yang matang, operasi ini pun kembali gagal karena adanya masalah di bidang logistik serta gangguan mekanis dari pengebom dan jarak yang amat ekstrim untuk menuju kota-kota di Jepang.

Brigadir Tentara Udara Amerika Serikat (USAAF) yang saat itu dijabat oleh Haywood S. Hansell kembali bertekad untuk membuat basis operasi B-29 di Guam, Tinian, dan Saipan di Pulau Mariana yang saat itu berada dalam cengkeraman Jepang. Pulau-pulau itu pun berhasil ditaklukan di bulan Juni - Agustus 1944, dan operasi B-29 pun mulai dimatangkan. 


Latar belakang dibalik pengeboman Hiroshima dan Nagasaki adalah proyek Manhattan, yaitu sebuah proyek besar kolaborasi antara Amerika Serikat, Inggris, dan Kanda yang masing-masing mengerjakan Tube Alloy dan Chalk River Laboratories. Proyek ini dipimpin oleh Leslie R. Groves dari Korps Insinyur Amerika Serikat yang membuat desain dan contoh bom atom pertama di dunia. Riset awal dilakukan pada tahun 1939 dengan dilandasi oleh ketakutan akan Jerman yang akan membuat bom atom terlebih dahulu.  Rencana penggunaan senjata bom atom terhadap Jerman itu pupus seiring menyerahnya Jerman pada Sekutu di bulan Mei 1945, alhasil target penyerangan dialihkan dari Jerman menjadi Jepang. 


Bom yang digunakan untuk menghancurkan dua kota besar di Jepang itu terdiri dari dua jenis bom yang dibuat oleh para peneliti di Los Alamos pimpinan ahli fisika yang bernama J. Robert Oppenheimer. Bom yang bernama Little Boy akan dijatuhkan di atas Kota Hiroshima, bom ini memuat uranium-235, isotope langka dari uranium yang diekstrak di sebuah pabrik besar yang ada di Oak Ridge. 


bom atom yang menghancurkan jepang
Little Boy

Sedangkan bom kedua bernama Fat Man yang merupakan bom yang berdaya ledak lebih kuat dan lebih kompleks. Bom yang akan dijatuhkan di atas Kota Nagasaki ini menggunakan plutonium-239, sebuah elemen buatan yang diciptakan di sebuah reaktor nuklir yang terletak di Hanford Washington 16 Juli 1945. 

Fatman

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, kecemasan melanda para pilot serta awak yang membawa bom atom tersebut. Tepat pada tanggal 6 Agustus 1945, bom pertama dijatuhkan di atas ketinggian 800 kaki di atas Kota Hiroshima oleh Skuad pengebom ke-393 pimpinan Tibbets. 



Bom itupun meluncur hingga menembus permukaan tanah, sebelum akhirnya meledak dengan daya ledak yang sangat dahsyat sehingga mampu meluluhlantakan bangunan dan mahluk hidup yang ada dalam radius 1,6 kilometer. 


Ledakan tersebut menewaskan lebih dari 70.000 - 80.000 jiwa yang 20.000 diantaranya adalah anggota tentara. 


Beberapa hari kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945, bom kedua dijatuhkan pada ketinggian 1.650 kaki di atas Kota Nagasaki. Bom ini meluncur dengan kecepatan 1.005 kilometer/jam dengan suhu 3.900 derajat celcius. Tak lama setelah menghunjam tanah, bom berdaya ledak tinggi itu pun mengeluarkan ledakan dahsyatnya. 



Kedua ledakan tersebut memunculkan awan jamur radiasi yang bisa menyakiti mahluk hidup yang terpapar oleh radiasinya.  Setelah kehancuran Hiroshima dan Nagasaki, pihak Jepang mengaku kalah dan menyerah pada AS dan Sekutu yang menandai akhir dari Perang Dunia II.