Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kyai Modjo: Antara Perang Jawa & Diponegoro.


Sekilas Penyebab Perang Jawa (1825 - 1830)

Perang Diponegoro, yang disebut Belanda sebagai perang Jawa ( 1825 - 1830 ) telah menelan korban tewas di pihak tentara Hindia Belanda sebanyak 15.000 orang (8.000 orang tentara Eropa dan 7.000 orang pribumi), sedangkan di pihak pengikut Diponegoro sedikitnya 200.000 orang tewas Perang ini tidak hanya perang melawan Belanda namun juga perang (sesama) saudara antara orang kraton yang berpihak ke Diponegoro dan yang anti Diponegoro (antek Belanda).

Beberapa faktor yang menyebabkan meletusnya perang Diponegoro adalah sebagai berikut:

  • Kekuasaan terselubung penjajah di kesultanan Jogyakarta.Campur tangan penjajah (Belanda dan Inggris) dalam pemerintahan Kesultanan Jogyakarta tersirat dalam kebijakan dan peraturan Kesultanan yang menguntungkan penjajah. Bahkan sah tidaknya kedudukan seorang sultan harus mendapat persetujuan dari penjajah, dan orang-orang yang tidak mau bekerjasama dengan penjajah disingkirkan. Akibatnya beberapa pangeran yang dipecundangi penjajah merasa sakit hati (salah satunya Pangeran Diponegoro).

  • Intrik dalam suksesi kerajaan.Ketika HB III mangkat pada tahun 1814 putra mahkotanya (Pangeran Jarot – HB.IV) masih berusia 10 tahun, dan untuk sementara pemerintahan dijalankan oleh wali kesultanan yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi (adik kandung HB III) dan Pangeran Diponegoro. (putra tertua HB III dari selir).
    Konon Diponegoro pernah ditawari oleh ayahnya (HB III) untuk menggantikannya bila ia mangkat, namun ditolak oleh Diponegoro. Penolakan ini kemungkinan disebabkan Diponegoro menyadari bahwa dirinya sebagai anak dari selir raja tentu nantinya akan menghadapi penolakan dan perlawanan hebat dari permaisuri raja dan putra mahkotanya, sementara pihak Belanda pasti tidak akan mengakuinya karena Diponegoro menolak bekerjasama dengan mereka.
    Meskipun demikian Ratu Ageng sebagai permaisuri dari mendiang HB III merasa khawatir kalau-kalau para wali sultan merebut kursi sultan dari putranya yang masih kecil itu (maklum perebutan kekuasaan sudah sering terjadi dalam kraton). Ratu Ageng melakukan persekongkolan dengan Belanda. Persekongkolan ini membuahkan hasil Belanda mengangkat dan mengakui Pangeran Jarot sebagai Sultan HB IV, dan mengabaikan fungsi wali sultan yang ada. Peristiwa ini menambah kebencian Pangeran Diponegoro Cs kepada Belanda. Kedua faktor tersebut di atas inilah yang melatar belakangi Pangeran Diponegoro memberontak kepada Belanda. Meskipun demikian Diponegoro belum secara terbuka menyatakan perlawanannya kepada Belanda, karena disamping jumlah pangeran-pangeran yang berpihak kepadanya tidak banyak juga ada saling curiga diantara mereka disebabkan terjadi krisis kepemimpinan, dan keadaan ini dapat digunakan oleh Belanda mengadu domba dan memukul perlawanan tersebut.
    Menyadari hal ini Diponegoro harus membuat suatu perlawanan yang bentuknya bukan perlawanan para pangeran saja tetapi adalah perlawanan rakyat. Bentuk perlawanan ini disadari oleh Diponegoro untuk menghindari tuduhan Belanda bahwa perlawanan ini semata karena keinginan Diponegoro untuk merebut kekuasaan (kelak Belanda tetap saja menuduh demikian). Untuk itu Diponegoro harus menemukan dan berkoalisi dngan suatu kekuatan yang dapat menggerakkan akar rumput (grassroot) agar perjuangannya bersifat meluas dan lama.
  • Eksploitasi sumber daya alam dan manusia.Kolusi pejabat istana dengan penjajah telah melahirkan produk-produk hukum yang sangat merugikan kehidupan masyarakat jawa. Kutipan segala macam pajak dan kewajiban menjual hasil bumi kepada penjajah dengan harga murah telah menyebabkan masyrakat menjadi makin miskin dan melarat. Sebaliknya penjajah menjual mimpi rakyat dalam bentuk perjudian, minuman keras, sabung ayam, pelacuran, serta racun demoralisasi lainnya. Penghancuran karakter (character Assasination) masyarakat Jawa yang umumnya beragama Islam oleh penjajah ini telah menggugah Kiay Modjo dan seluruh keluaganya berjihat melawan penjajah.
  • Momentum Pemicu Pecah Perang.Moment yang tepat itu ternyata sederhana sekali, yaitu pada pertengahan tahun 1825, tepatnya pada awal Juli 1825, Patih Danureja IV, kolabolator Belanda yang setia, telah memerintahkan pejabat-pejabat kesultanan Yogyakarta untuk membuatjalan, di mana antara lain menembus tanah milik Diponegoro dan neneknya di Tegalrejo. Penggunaan tanah milik Diponegoro untuk jalan tanpa sepengetahuan Diponegoro sebagai pemilik-nya. Oleh karena itu Diponegoro memerintahkan pegawai--pegawainya untuk mencabut tonggak-tonggak yang dipancangkan sebagai tanda pembuatan jalan oleh Patih Danureja IV. Tindakan Diponegoro ini diikuti oleh protes keras dan menuntut supaya Patih Danureja dipecat dari jabatannya. Tetapi A.H. Smisaert, selaku Residen Belanda di Yogyakarta menolak dan menekan sultan untuk tetap mempertahankan Patih Danureja IV. Suasana tegang ini menjadi pemicu meletusnya Perang Jawa.

LATAR BELAKANG KELUARGA KYAI MODJO
Menurut Babcock (1989), Kyai Modjo lahir sekitar tahun 1792 , namun di kampung jawa Tondano beliau disebutkan lahir pada tahun 1764 - sebagaimana tertulis pada papan di makam beliau. Menjelang dewasa beliau kemudian menjadi guru agama (ulama) yang sangat berpengaruh daerah Pajang dekat Delangu Surakarta. Nama sebenarnya adalah Muslim Mochammad Khalifah. Ayah Kyai Modjo bernama Iman Abdul Arif, juga seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, kedua dusun tersebut berada dekat Pajang dan merupakan tanah pemberian (pradikan) Raja Surakarta kepada beliau.

Belum diketahui latar belakang keluarga beliau, kecuali menurut suatu sumber (Babcock, 1989) Iman Abdul Ngarip memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Sedangkan ibu Kiay Modjo adalah saudara perempuan HB III, dan dengan demikian ditinjau dari hubungan kekerabatan Kiay Modjo adalah kemenakan Pangeran Diponegoro karena ibu Kiay Modjo (R.A Mursilah bersepupuan dengan Pangeran Diponegoro. Meskipun ibunya seorang ningrat kraton, kiay Modjo dibesarkan diluar kraton. Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menetap disana selama beberapa waktu (Ali Munhanif, 2003) Kiay Modjo kemudian memimpin satu pesantren di negri Modjo .Selain Kyai Modjo, Iman Abdul Arif memiliki beberapa anak laki-laki diantaranya Kyai Baderan, Kyai Hasan Mochammad dan Kyai Hasan Besari.

Sepeninggal ayahnya, Kyai modjo melanjutkan tugas ayahnya sebagai guru agama di (pesantren) Modjo dimana banyak putra dan putri dari Kraton Solo belajar di pesantrennya di Modjo. Kelak nama Muslim Mochammad Khalifah menjadi terkenal sebagai Kyai Modjo. Keulamaannya dan ada pertalian darah dengan kraton Jogyakarta (baca Pangeran Diponegoro) kemungkinan membuat Pangeran diponegoro memilih kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya.

Kyai modjo menikah dengan R.A Mangubumi (Babcock, 1989), janda cerai dari pangeran Mangkubumi - paman Pangeran Diponegoro dan karena perkawinan ini Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Modjo dengan sebutan “paman” meskipun dari garis ayah Kyai modjo adalah “kemenakan” Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai modjo (R.A Mursilah) adalah sepupu Pangeran Diponegoro. Pangeran Mangkubumi adalah salah satu pangeran yang ikut memberontak bersama-sama pangeran Diponegoro dan Kyai modjo. Konon Kyai Modjo memiliki 3 orang anak laki-laki, dua diantaranya meninggal di Mekah, sedangkan satu anak yang tersisa bernama Gazaly.

Landasan Perjuangan Kyai Modjo
Landasan perjuangan Mochammad Muslim alias Kyai Modjo adalah menegakan syariat islam di tanah jawa, artinya meluruskan ajaran islam dari pengaruh kebudayaan Hindu seperti tahayul, mistik, kurafat, bid’ah, dan sinkretisme lainnya. Ketika perang jawa meletus pada tahun 1825 Kyai Modjo sudah berusia 33 tahun atau 7 tahun lebih muda dari Pangeran Diponegoro.

Menurut Kyai Modjo, ideology untuk mendirikan suatu pemerintahan Islam ini disebutkan secara tegas ketika ia menyerah kepada Belanda pada akhir tahun 1829. Kiay modjo mengatakan bahwa tujuan utama dirinya dan para tokoh Muslim mendukung Diponegoro adalah karena janji pangeran itu untuk merestorasi agama Islam di Jawa. Peter Carrey (seorang Antropolog Amerika) mendokumentasikan pernyataan Kiay Modjo sebagai berikut (Ali Munhanif, 2002) :

“ Alasan utama mengapa saya angkat senjata (melawan Belanda) adalah karena Pangeran berjanji akan membangun suatu pemerintahan Islam. Percaya janji itu, saya langsung bergabung kepadanya. Namun belakangan, saya mendapati bahwa itu bukanlah tujuan yang sebenarnya, dan ia sebenarnya hanya ingin mendirikan suatu kerajaan baru di Jawa. Saya sendiri mengajukan keberatan atas hal itu, dan kami berdebat dengan sengit akan tujuan pemberontakan ini…… hingga akhirnya ia menyarankan agar saya berhenti berperang.”

Kyai Modjo sebagai panglima dan penasihat utama Diponegoro berhasil mengubah modus perlawanan terhadap penjajah dari “pemberontakan” menjadi “perang sabil”. Di bawah pengaruh Kyai Modjo, ikut sejumlah tokoh lokal; 88 Kyai desa, 36 haji, 11 syech, 18 pengatur agama (penghulu, modin, khatib, juru kunci), 15 guru mengaji, dan beberapa ulama dari Bagelen, Kedu, Mataram, Pajang, Madiun dan Ponorogo, serta 3 orang santri wanita.

Meredupnya Hubungan Kyai Modjo & Diponegoro

Jalannya perang menunjukan pasang surut antara menang dan kalah. Pertempuran demi pertempuran telah mengakibatkan banyak jatuh korban di kedua belah pihak. Perang telah meluas bukan hanya di kota Yogyakarta tapi ke seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Memasuki tahun keempat (1828) peperangan, Kyai Modjo melihat bahwa perang ini telah membawa kesengsaraan yang berat bagi rakyat dan pengikutnya, maka beliau mencoba melakukan kontak dengan Belanda untuk mengakhiri perang. Yang diutamakan oleh Kyai Modjo adalah jaminan pelaksanaan sariat islam di Jawa dan kemakmuran rakyat, sehingga tidaklah penting siapa yang berkuasa di tanah Jawa. Sehingga bila Belanda dapat menjamin hal tersebut beliau siap melepaskan senjata untuk berdamai.

Sebaliknya Pangeran Diponegoro memiliki latarbelakang yang lebih komplek, khususnya yang berhubungan dengan suksesi kepemimpinan di kraton, dan faktor inilah yang menjadi sebab agenda perjuangan Kyai Modjo dan Pangeran Diponegoro berbeda.

Perselisihan antara Kyai Modjo dan Diponegoro tentang tujuan perang suci, dan siapa yang berhak menduduki kursi kepemimpinan setelah tujuan tercapai, membuat Kyai Modjo putus asa dan mengundurkan diri dari medan pertempuran.

Hal penting lain yang membuat Kyai Modjo tidak akur dengan Diponegoro adalah adanya kecenderungan dari Pangeran Diponegoro memposisikan diri sebagai juru selamat dan secara tersirat menghubungkan peristiwa spiritual yang dialaminya seakan akan sama dengan peristiwa spiritual yang dialamai oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa spiritual yang dimaksud disini adalah seperti proses yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW sewaktu beliau diangkat menjadi Rasul dan peristiwa-peristiwa khusus yang dialami beliau, seperti suka menyendiri di goa dan gunung, menerima wahyu dari Malaikat Jibril dan lain-lain.

Dalam buku Babad Diponegoro karangan Pangeran Diponegoro sendiri (catatan : ada dua versi Babad Diponegoro, yang satu dikarang oleh Cakranegara, seorang Bupati pro Belanda dan musuh Pangeran Diponegoro) menulis bahwa ia (Diponedgoro) telah mengalami kejadian spiritual (dan secara implisit menginformasikan bahwa peristiwa tersebut) sama seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW.

Diponegoro menulis, ketika sedang berkhalwat (bertapa) di gua Secang pada tanggal 21 Ramadhan, ia mendapat tugas suci dari Allah SWT melalui perantaraan “Ratu Adil” untuk berperang, dan pada tanggal 27 Ramadan “Ratu Adil” mengangkatnya sebagai “Jeng Sultan Abdulhamid Herucakra Sayidin Panatagama Khalifah Rasullullah di tanah Jawa” (Babad Diponegoro, p.98-100). Kutipan dari halaman 10 buku babad tersebut, Diponegoro menulis sebagai berikut (KRT.Hardjonagoro,1990) :

“Amba nuwun, sampun tan kuwawi jurit, lawan tan saget ika, aningali dhumateng pepeti’'
[Hamba mohon(ampun), hamba tak kuat berperang (lagi) dan tak dapat melihat orang (mati)].

Akan tetapi Ratu Adil menjawab :

“Ora kena iku, wus dali karsaning sukma, tanah Jawa pinasthi marang hyang Widhi, kang duwe lakon sira nDatan ana liya maning-maning”
[Itu tak boleh, sudah menjadi kehendak Allah, ditakdirkan di pulau Jawa yang memegang peranan ialah kamu, tak ada yang lain lagi.]

Contoh lain yang ditulis dalam buku itu adalah mengenai kejadian dalam suatu perang (mirip dengan perang Hudaibiyah), mengaku tidak tahu membaca dan menulis (padahal dia telah menulis buku Babad), dan lain-lain.

Barangkali Pangeran Diponegoro pada waktu itu pernah membaca atau diceritakan mengenai sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan mencoba mentransformasikan peristiwa spiritual Nabi Muhammad tersebut ke dalam dirinya sendiri. Memang setiap Muslim dianjurkan untuk berusaha meniru atau mencontoh akhlak Rasullullah sebagi suri tauladan, tetapi bukan berarti harus menjelma seperti nabi.

Mungkin sebagai orang Jawa Pangeran Diponegoro (meskipun sudah beragama islam) belum bebas dengan pengaruh budaya Jawa yang kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan Hinduism. Menghadirkan tokoh spirituil seperti “Ratu Adil”, “Nyai Roro Kidul”, dan tokoh dewa-dewa yang menjelma menjadi manusia bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat agar memandang orang-orang yang memiliki hubungan istimewa dengan tokoh tersebut adalah orang yang istimewa atau terpilih (memiliki kanuragan) dan statusnya berbeda dengan manusia kebanyakan, sehingga pada akhirnya masyarakat menjadi patuh dan tunduk secara sosial maupun politik.

Alasan Diponegoro memberontak tidak semata karena factor penjajah, tetapi lebih dari itu. Diponegoro berkeinginan mendirikan kerajaan jawa yang baru dengan beliau sebagai rajannya. Keinginan ini barangkali dipicu oleh perasan frustrasi akan konflik internal (suksesi) kerajaan yang berkepanjangan akibat campur tangan penjajah.

Kecenderungan Diponegoro memposisikan diri sebagai raja (baru) jawa terlihat dalam gaya dan atribut kerajaan yang ditonjolkannya dalam memimpin peperangan. Karena Diponegoro berjuang untuk mendirikan istana tandingan, gelar dan perlengkapan kebangsawanan jawa selalu ditampilkan demi kebutuhan untuk menunjukan bahwa ia adalah penguasa spiritual yang berhak atas tahta Mataram. Para pengikutnya (kecuali Kyai Modjo Cs), dengan berbagai cara, juga memperlakukan dan melayani semua keperluan Diponegoro sebagaimana layaknya seorang pemegang tahta kerajaan. Mereka memperlihatkan perlengkapan bangsawan jawa yang megah, termasuk didalamnya pusaka pribadi-keris, kuda, dan lain-lain. Disamping itu, meskipun Diponegoro sendiri berpakaian jubah Arab muslim, ia dan para bangsawan dikelilingi oleh payung berlapis emas. Bendera yang digunakan bertuliskan ornamen kerajaan (Ali Munhanif, 2003).

Diponegoro berhasil menggunakan sentimen kebudayaan jawa (mistisisme; ratu adil) yang diadopsi dari kebudayaan Hindu-Budha, untuk merekrut sebagian masyarakat dan bangsawan beraliran (kepercayaan) bergabung dalam panji-panji kerajaan tandingannya.

Penangkapan Kyai Modjo
Disebabkan kelelahan berperang dan perbedaan pandangan mengenai tujuan perang antara Kyai Modjo dan Pangeran Diponegoro tersebut serta belakangan diketahui oleh Kyai modjo bahwa tindakan-tindakan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya tidak mencerminkan ahlak islam membuat Kyai Modjo bersedia berunding dengan Belanda untuk menghentikan perang. Keinginan itu disampaikan Kyai Modjo melalui surat tanggal 25 Oktober 1828 kepada Kolonel Wira Negara – Komandan Pasukan Tentara Kraton, menyatakan keinginan mengadakan pertemuan dan perundingan dengan Belanda. Tempat pertemuan yang ia inginkan di daerah Pajang dari mana dia berasal

Belanda sadar bahwa kekuatan Pangeran Diponegoro sangat tergantung pada Kyai Modjo. Sehingga apabila Kyai Modjo dan pasukannya dapat ditundukan maka akan mudah untuk meringkus Pangeran Diponegoro. Maka ketika Belanda mendengar keinginan Kyai Modjo untuk melakukan negosiasi perdamaian kesempatan ini tidak disia siakan oleh Belanda. Dimata Belanda Kyai Modjo ini adalah seoarang pemimpin dan panglima yang sangat mengancam kepentingan Belanda, sehingga penting bagi Belanda untuk melumpuhkan tokoh ini.

Kabar KyaiModjo ingin berdamai ini tentu saja sangat menggembirakan Belanda. Belanda berpura-pura setuju melakukan perdamaian sembari menyusun siasat busuk untuk memperdaya dan menangkap Kyai Modjo. Atas kesepakatan bersama pertemuan akan diadakan di Mlangi – Yogyakarta pada tanggal 31 Oktober 1828, pertemuan ini gagal terlaksana kemudian direncanakan lagi pada tanggal 5 Nopember 1828, pertemuan inipun gagal.

Atas kegagalan ini Belanda kemudian membujuk Kyai Modjo untuk mengadakan perundingan di Klaten dan Kyai Modjo menyetujui. Belanda telah bertekat akan menangkap Kyai Modjo dan pengikutnya bila pertemuan berhasil diadakan. Pertemuan di Klaten direncanakan diadakan pada tanggal 12 Nopember 1828. Pada tanggal tersebut, ketika Kyai Modjo dan pengikutnya datang untuk berunding, Kyai Modjo dan pasukannya yang berjumlah kurang lebih 500 orang disergap dan dilucuti oleh Belada di dusun Kembang Arum tanpa ada perundingan, ditangkap dan dibawa ke Salatiga dengan pengawalan ketat. Atas permintaan Kyai Modjo sebagian besar pasukannya dibebaskan oleh Belanda dan hanya kerabat Kyai Modjo, beberapa tokoh agama, prajurit, dan pelayan saja yang tetap ditawan oleh Belanda.

Dalam dunia modern tindakan Belanda ini adalah suatu kejahatan perang. Konon dalam menangkap Kyai Modjo dan pasukannya, Belanda mendatangkan ke tanah Jawa tentara Belanda Pribumi dari Manado dan Ambon.

Di Salatiga pada tanggal 17 Nopember 1828, Belanda mengadakan pertemuan (tepatnya interogasi) dengan Kyai Modjo dan kerabatnya. Pembicaraan tersebut tertuang dalam dokumen Raden Tumenggung Mangun kusumo tertanggal Magelang 19 Nopember 1828 (Arsip Nasional RI, Ina Mirawati) tentang pembicaraan Letnan Gubernur Jendral beserta staffnya Residen Kedu (F.G Valck), Letkol Roepst dan kapten de Stuers dengan Kyai Modjo beserta para pengikutnya. Isi laporan tersebut secara singkat sebagai berikut :

Dalam pembicaraan itu Kyai Modjo mendapat pertanyaan apakah dirinya setuju dan cocok jika Pulau Jawa dikembalikan kepada Pangeran Diponegoro (maksudnya Diponegoro menjadi raja tanah jawa, dengan demikian menghapus kekuasaan dua sultan yang berkuasa saat di Solo dan Yogya). Kyai Modjo tidak menjawab setuju atau tidak tetapi beliau mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro akan puas dan akan berdamai apabila tanah Jawa dikembalikan kepada Pangeran Diponegoro (Diponegoro menjadi raja jawa yang baru). Tersirat dalam pernyataan Kyai Modjo tersebut bahwa beliau mengetahui betul apa sebenarnya motif dibalik pemberontakan Pangeran Diponegoro. Kyai Modjo mengungkapkan satu keinginannya yaitu menjadikan Agama Islam sebagi agama negara (bukan agama kesultanan).

Dalam pembicaraan tersebut Pemerintah Kolonial menjawab bahwa tanah jawa tidak akan diberikan kepada Pangeran Diponegoro dan Belanda akan tetap berkuasa sampai pemberontak bersedia bergabung lagi dengan Sultan Solo dan Sultan Yogya (kedua sultan tersebut notabene berada dalam kendali Belanda). Mengenai keinginan Kyai Modjo agar Agama Islam menjadi agama negara, Belanda mengatakan bahwa agama tetap berada dalam perlindungan Sultan (Yogya) dan Sunan (Solo). Bahwa pererintah Kolonial tidak mempunyai niat untuk mengubah Islam yang menjadi keyakinan mereka itu, tidak akan melakukan perubahan-perubahan dalam bidang keagamaan, masalah-masalah yang berkaitan dengan Agama tetap bernafaskan Islam dan mengacu pada Alquran. Pemerintah di kedua kerajaan itu wajib melindungi dan percaya terhadap Agama Islam.

Jawaban Belanda yang tidak mengabulkan keinginan Pangeran Diponegoro bukan persoalan besar bagi Kyai Modjo. Awalnya Kyai Modjo bersedia membantu pangeran Diponegoro dalam peperangan karena Pangeran Diponegoro punya keinginan untuk membersihkan ajaran islam dari praktek-praktek bid’ah, namun belakangan beliau mengetahui banyak pengikut Diponegoro yang mengaku beragama Islam sudah tidak lagi melakukan sembahyang, tidak memberi zakat dan tidak pergi ke Mekah, minum minuman keras dan main perempuan. Bahkan Pangeran Diponegoro sendiri ikut-ikutan ”main” perempuan dan banyak selir (Sultan Abdulkamit Herucakra, halaman 74 – 76, KRT Hardjonagoro). Juga Pangeran Diponegoro telah memposisikan diri sebagai ”ratu adil” yang diutus oleh Allah SWT – ”meniru” pengalaman spiritual Nabi Muhammad SAW.

Yang menjadikan Kyai Modjo kecewa adalah bahwa Belanda tetap menjadikan Agama Islam dalam wewenang kekuasaan Sultan. Kyai Modjo sedih dan prihatin mengingat tindak tanduk kedua sultan dan budaya di kraton sudah sangat melenceng jauh dari ajaran syariat Islam. Para Sultan dan pemerintah serta rakyatnya telah ”melacurkan” dan mencampur adukan (sinkretisme) syariat Islam dengan Hinduisme. Pencemaran ritual Islam tumbuh subur dimana-mana seperti mistikisme, sesajenisme, kejawenisme dan lain-lain.

Dalam situasi yang tidak menguntungkan untuk Kyai Modjo di Salatiga itu, pemerintah Kolonial hanya memberikan pilihan kepada Kyai Modjo; bergabung kembali dengan Sultan (baca Belanda) atau ditahan dan diasingkan keluar pulau jawa, dan Kyai Modjo memilih pilihan kedua tetapi menolak dianggap sebagai pemberontak.